Dai Bukan Politisi - Pejuang.Net - Pusat Berita Islam Indonesia

Pejuang.Net - Pusat Berita Islam Indonesia

Situs Islam Rujukan

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 03 Juli 2019

Dai Bukan Politisi

Foto : Illustrasi
Penulis : Elhakimi

PEJUANG.NET - Kisah nabi Syu’aib as merupakan teladan bagi para dai dalam keteguhan sikap di hadapan para tokoh dan penguasa yang menolak dakwahnya. Dakwah itu membawa pesan Allah, karenanya tak bisa dinegosiasikan dengan manusia. Bukan membawa pesan ketua partai, yang bisa luwes menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang penting menguntungkan partai.

Allah berfirman:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (88) قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (89)

Tokoh-tokoh masyarakat Madyan yang arogan itu menjawab, “Wahai Syu’aib, kami sungguh akan usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, atau engkau kembali kepada odeologi kami”. Syu’aib berkata: “Apakah (kalian akan mengusir kami) meski kami menolak?”. 

(Syu’aib melanjutkan) “Sungguh  membuat kebohongan atas nama Allah jika kami kembali kepada ideologi kalian sesudah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. (QS. Al-A’raf: 88-89)

Ketika Syu’aib as sampai pada fase diberi pilihan dilematis oleh para tokoh Madyan – kembali jahiliyah atau diusir dari Madyan – maka Syu’aib menggunakan dua jurus diplomasi. Dan diplomasi ini bukan basa-basi ala politisi, tapi pernyataan serius yang disertai nyawa sebagai konsekwensinya.

1. Syu’aib as memukul balik dengan menggunakan prinsip yang dipakai musuh. Ketika musuh mensakralkan Liberalisme, paham serba boleh, tidak ada paksaan dalam hal apapun, maka Syu’aib berargumen: “apakah kalian akan tetap mengusirku meski kami menolak”. Jika kalian masih melanjutkan pengusiran, maknanya Anda mengkhianati prinsip yang anda pegang sendiri, yang dengan prinsip itu Anda memusuhi kami. Seharusnya, Anda juga tidak berhak mengusir kami dengan paksa.

Syu’aib as sadar bahwa pukulan semacam ini hanya bertujuan merusak citra Liberalisme. Tak akan membuat musuh berhenti mengusirnya. Tapi setidaknya masyarakat jadi tahu, bahwa para tokoh Madyan bertindak curang dan arogan, karena menindas kaum lemah semaunya sendiri. Liberalisme pada akhirnya menjadi prinsip kebebasan bagi para pemuka kaum, bukan kebebasan untuk rakyat lemah. Pemuka bebas melakukan apa saja karena berkuasa, sementara rakyat lemah harus menyesuaikan diri dengan kebebasan yang dipraktekkan para pemuka kaum tersebut. Bukan kebebasan untuk semua warga.

2. Syu’aib as menjelaskan posisi dirinya. Bahwa dakwah yang ia sampaikan bukan sejenis diplomasi karet ala politisi. Jika mendapat tekanan, akan menjadi pragmatis. Bahwa tema dakwah yang diusungnya, adalah keyakinan hidup yang menjadi ideologi sakral bagi dirinya dan bersifat harga mati. Nyawa sekalipun akan dikorbankan untuk membelanya. 

Maka ketika pilihan dilematis itu disodorkan kepada Syu’aib oleh para pemuka Madyan, ia tak gentar. Ia harus memberi teladan bahwa apa yang ia dakwahkan bukan mainan. Tapi sebuah nilai aqidah yang serius. Jika ia tak sanggup memberi contoh saat ujian datang, maka orang-orang akan menilai ia tak lebih sebangsa politisi yang pernyataannya mudah berubah, pagi A sore berubah menjadi B.

Saat ujian datang adalah momen terpenting yang dinanti penonton. Sanggupkan sang dai memberi harga tertinggi untuk materi dakwah yang ia dakwahkan sendiri. Ataukah ia gagal memberi harga tertinggi, dengan lebih menghargai nyawanya dibanding tema dakwahnya. Jika gagal, tema dakwah yang diusung hanya akan dinilai oleh penonton sebagai “pernyataan politisi”. Padahal masyarakat cenderung apatis dengan sikap politisi, karena politisi adalah manusia yang paling susah dipegang omongannya. 

Maka Syu’aib as berkata: “Sungguh kami berdusta atas nama Allah jika kami memilih kembali kepada syirik, setelah kami diselamatkan oleh Allah dengan pemahaman tauhid ini”. 

Syu’aib as bahkan mengulang pernyataan itu dua kali, sebagai penegasan akan sikapnya yang harga mati. Ia pasrahkan hidupnya kepada Allah, apapun yang akan terjadi. Seolah ia mengirim pesan: “aku tak akan mundur meskipun nyawaku melayang karenanya”.

Teladan dari Syu’aib as ini hendaknya menjadi panduan bagi para dai masa kini. Bahwa mereka sedang membawa pikiran dan keyakinan sakral berasal dari Allah yang harus dibela hingga titik darah penghabisan. Dai bukan politisi, yang dengan mudah merubah tema yang diusung menyesuaikan untung rugi negosiasi. Jika ada keuntungan untuk dirinya atau partainya, ia akan ambil, meski harus merubah tuntutan yang sedari awal ia bawa. 

Tapi dai itu membawa pesan Allah. Pesan itu tak bisa dinegosiasikan di hadapan makhluq. Jika makhluq terima alhamdulillah, jika menolak maka Allah yang bertindak. Kewajiban dai adalah gigih menyampaikan dan menawarkan dengan segenap argumen dan keberanian, lalu tegar saat menghadapi penolakan. Serahkan semua urusan kepada Allah, seperti teladan kita Syu’aib as.

والله أعلم بالصواب 


Publis by : Pejuang.Net 
Ikuti kami di channel Telegram : t.me/pejuangofficial
Facebook : https://www.facebook.com/pejuangofficial
Flow Twitter Kami: @PejuangNet ()

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad