Prabowo; Setelah Dicerca Habis, Kini Dipuja Habis - Pejuang.Net - Pusat Berita Islam Indonesia

Pejuang.Net - Pusat Berita Islam Indonesia

Situs Islam Rujukan

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 31 Juli 2019

Prabowo; Setelah Dicerca Habis, Kini Dipuja Habis


PEJUANG.NET - Persoalan sampah di Jakarta yang belakangan ini dipersoalkan oleh Bestari Barus, anggota DPRD DKI dari Partai Nasdem terus digoreng.

Para haters di media sosial kompak menyudutkan Anies dan membandingkan dama pengelolaan sampah DKI dengan walikota Surabaya, Risma, politikus PDIP.

"Kota Surabaya mampu mengelola sampah dengan Dana Rp.30M dibanding DKI dg Dana Rp.3.7T tapi DKI masih kotor dan bau.

Tidak ada yg tak mungkin, jika Pemimpin Daerah punya Niat & Mampu bekerja, bukan begitu @SuaraAnies???"

Namun, klaim bahwa anggaran pengelolaan sampah di Surabaya hanya sebesar Rp30 M, dipatahkan oleh data APBD Kota Surabaya.

"Surabaya sendiri, mengalokasikan sekitar Rp474.924.244.882 dalam pagu anggaran indikatif program pengelolaan kebersihan dalam Rancana Kerja Pemerintah Daerah Surabaya tahun 2019 [PDF].

Angka tersebut bahkan jauh lebih besar dari pernyataan Risma soal anggaran pengelolaan sampah, seperti dikutip sejumlah media, yaitu sebesar Rp30 miliar," seperti dilaporkan TirtoID. 

Cuitan haters Anies itu pun ditanggapi oleh warganet.

Oleh: Asyari Usman*

Lucu sekali. Campur mau muntah. Para tokoh dan buzzer 01 tidak lagi menjelek-jelekkan Prabowo dan Partai Gerindra. Sebelum 13 Juli 2019, Prabowo diejek dan diperolok-olok.

Prabowo dipojokkan dan dihina. Ada saja yang menulis panjang atau sekadar status pendek tentang reputasi Prabowo. Prabowo disebut penculik. Disebut haus kekuasaan. Dikatakan tak layak memimpin karena keluarganya saja berantakan; mana mungkin memimpin negara.

Prabowo disebut temparental. Tukang gebrak meja. Suka emosi. Dan seterusnya. Banyak lagi.

Ada yang memyoroti lahan HGU yang sangat luas milik Prabowo. Karena itu, omong kosong dia berbicara soal rakyat miskin. Pokonya, para petinggi 01 habis-habisan mencela dan memojokkan Prabowo. Tidak ada sama sekali kebaikan Prabowo.

Bahkan, sempat didengungkan bahwa Prabowo bisa ditangkap kalau dia begitu dan begini. Banyak buzzer 01 yang mengaitkan Prabowo dengan kerusuhan 21-22 Mei, menyusul pengumuman hasil pilpres oleh KPU.

Prabowo maju ke MK pun dicerca. Dihina sampai kandas. Prabowo diejek sebagai “Presiden Kertanegara” (merujuk rumah Prabowo di Jalan Kertanegara).

Sekarang, semua berubah total. Setelah pertemuan Jokowi-Prabowo di Lebak Bulus (13 Juli 2019) dan pertemuan Megawati-Prabowo di Jalan Teuku Umar (24 Juli 2019), semua berbalik. Prabowo dipuja dan dipuji. Label temparamental berganti negarawan. Sebutan tak becus berubah menjadi patriot.

Prabowo menjadi “rising star” (bintang tanjak). Bagi 01. Dia disebut seorang nasionalis sejati. Hanya saja selama ini dia ditunggangi oleh kelompok Islam radikal.

Sekarang Ketum Gerindra, bagi 01, berubah menjadi “New Prabowo”. Harapan baru untuk stabilitas nasional. Dia dirangkul dengan harga berapa pun. Kalau perlu dengan mengorbankan siapa saja di kubu 01 yang tak rela menerima Prabowo.

Queen-maker 01, Bu Megawati, memberikan gestur yang sangat meyakinkan bagi Prabowo. Ada yang menduga, Bu Mega siap meneken “blank cheque” (cek tak berbatas) untuk Prabowo. Cek itu akan diisi sendiri oleh Prabowo. Terserah Prabowo berapa banyak porsi kekuasaan yang dia inginkan. Silakan ambil kursi apa saja yang dia mau.

Tak perduli apakah Surya Paloh akan cukur habis brewoknya atau tidak. Tak perduli juga apakah Cak Imin akan memimpin kudeta Nahdhiyyin atau kudeta apa saja. Dan, memang tak mungkin ada yang berani kudeta walaupun kursi kabinet mereka diganti dengan bangku warungan.

Begitulah gambaran tentang sambutan yang diberikan kepada Prince of Hambalang, Prabowo Subianto. Pangeran yang akan menyelamatkan Indonesia dari krisis besar.

“Mungkinkah begitu?” tanya seekor kelelawar kepada katak-katak yang sedang mabuk menyaksikan drama kontemporer karya grup teater BIG BIN.

Pertanyaan yang naif. Katak yang tak mabuk saja, tak bakalan tahu jawabannya. Apatah lagi katak mabuk yang ditanya oleh kelelawar. Tak mungkin. Karena mereka sama-sama korban penipuan.

*) Penulis adalah wartawan senior


Publis by : Pejuang.Net 
Ikuti kami di channel Telegram : t.me/pejuangofficial
Facebook : https://www.facebook.com/pejuangofficial
Flow Twitter Kami: @PejuangNet 
Sumber : gelora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad